sepotong kebingungan gw setelah lulus kuliah

tik tik tik, jarum jam terus berdenting menemaniku browsing di pagi ini. Rasa pilek dan sedikit pusing juga ikut menemaniku. Jujur aja, saat ini gw lagi kehilangan arah, gak tahu mau ngapain.

Bagai anak muda umur 20 tahun-an lainnya, yang penuh ambisi dan cita-cita, gw juga punya ideologi yang cukup tidak rasional. Untuk apa sih hidup itu? tiap hari, sebelum tidur, gw selalu kepikiran akan hal itu.

Buat gw, hidup untuk dinikmati. Bukan bekerja demi keterpaksaan atau ambisi sesaat. Untuk apa hidup jika hanya penyesalan yang terjadi. Contohnya, selama muda bekerja terus mencari uang tanpa memikirkan kesehatan dan tanpa menikmati hidup, di hari tua, sakit-sakitan dan harta yang dikumpulkannya habis untuk biaya pengobatan.

1. Hidup harus memiliki tujuan
Ada seorang teman yang pernah berkata kepada saya, jalani aja hidup apa adanya. Betul. Hidup memang harus di jalankan apa adanya, tapi klo gak punya tujuan dan motivasi, hidup apa adanya bagaikan anak ayam yang jalan muter-muter tanpa tahu harus kemana. Dia hanya tahu makan-tidur, dan menikmati hidup seperti itu, dan pada akhirnya akan berakhir dengan rutinitas yang seperti itu terus.

2. Hidup tanpa penyesalan
setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, termasuk saya tentunya. Kesalahan-kesalahan itu terkadang bisa berefek pada masa yang akan datang. Misalnya: saat masih muda, hanya memikirkan pekerjaan saja tanpa peduli pada keluarga, suatu saat, ketika keluarga yang kita tidak pedulikan itu meninggalkan kita, kita baru sadar betapa penting arti keluarga itu. (yah, penyesalan selalu datang terlambat.. huff)

yah, klo sudah tahu salah, paling kita hanya bisa mengambil hikmah nya jangan melakukan hal itu lagi (dan jika masi memungkinkan, berusaha untuk bertobat)

———————————————————————————————————————————————–

Sekarang sepenggal kehidupan gw,
pernah denger berita remaja di jepang yang bunuh diri pada usia muda (umur masih SMA), karena keputusasaan?
kadang terdengar bodoh. Kenapa dia mau mengakhiri hidupnya? Sebenarnya ada banyak hal yang bisa dilakukan di dunia ini.
Begitu juga dengan gw, gw merasa uda bosan dengan kehidupan ini. Gak punya tujuan. Gak punya motivasi untuk hidup, dan tak tahu untuk apa hidup itu. Gw uda bosan mendengar segala jawaban dari segi agamais. Yang terpikir di benak gw cuma rasio / logika.

Gw hidup di keluarga yang cukup berada. Mau beli barang-barang kebutuhan biasa tidak ada masalah. Bisa dibilang , semua tercukupi sampai gw gak ada ambisi buat nyari kekayaan yang lebih lagi.
teringat pendapat seorang temen kos saya bernama william, “Manusia tidak membutuhkan banyak harta, Harta hanya membuat manusia menjadi sombong“.

Saya sependapat dengan dia, manusia cukup hanya memiliki sedikit harta untuk dapat bertahan hidup. Harta berlebih hanya untuk memuaskan ambisi dari manusia itu saja. Ok, back to topic, jadi intinya gw hidup bukan untuk mencari harta sebanyak mungkin.

Berikutnya, orang tua saya mencoba memaksa / memanfaatkan saya untuk melanjutkan usaha toko mereka. Not bad, cause they’re want to be pension and i must to be a money mechine. Dengan alasan untuk masa depan gw (memang baik, tapi saat ini, obsesi dan ideologi gw bukan mencari duit).
Sedikit teringat kata-kata temen bokap gw, “Kamu masih muda, anak muda mah punya banyak ideologi dan pemikiran-pemikirannya sendiri. Namun nanti saat umur sudah 30-an atau 40-an, mereka akan semakin realitis dan tidak mengejar ideologi / mimpinya itu lagi”.
Artinya: sekarang gw punya pemikiran bahwa hidup bukan untuk uang, namun mungkin saat gw berumur 30-an, dimana gw punya anak, istri, dan segudang kebutuhan pokok lainnya, tidak menutup kemungkinan klo gw akan berubah menjadi mendewakan uang, akibat dari kenyataan hidup yang memang semua hal membutuhkan uang.

Ideologi / pemikiran saya saat ini cukup simple, karena gak punya ambisi dan tujuan, saya hanya ingin menikmati hidup, bekerja dengan senang, tanpa mengejar target/ kekayaan sebanyak mungkin, dan bisa hidup tenang tanpa tekanan.

kenyataannya:
hidup saya sekarang berbeda dengan ideologi saya. Ortu nyuruh jaga toko tiap hari biar semakin profesional dalam meneruskan usaha mereka. oh ya, alasan gw gak mau jaga toko adalah karena gak ada istirahat kecuali malam hari (itu juga buat tidur doang). Seperti yang kita ketahui, orang-orang yang memiliki toko, harus menjaga tokonya dari pagi hingga sore, kadang hingga malam hari, dari senin hingga minggu, setiap hari dalam setahun. (gile, kapan liburnya gw..) Yah, kenyataannya orang yang buka toko kadang bisa memperoleh penghasilan yang sedikit lebih besar daripada orang yang bekerja pada orang lain. Tapi kapan liburnya?? kapan waktu untuk menikmati hidup??? waaaa…
(mungkin ada sebagian orang yang merasa memperoleh uang banyak setiap hari memiliki kenikmatan tersendiri, tapi klo uang itu tidak digunakan, dan hanya disimpan aja, apa bisa tetep seneng? heran, kertas yang bertuliskan nominal bisa membuat  orang jadi aneh)

Berikutnya sikap cuek yang gw lakukan selama ini akhirnya mencapai puncaknya. Selama ini, gw berusaha tidak memperdulikan apa yang orang pikirkan terhadap gw, dan gw tetep berpedoman pada ideologi gw sendiri. Bahkan gw sendiri menganggap diri gw gak punya teman, dan oleh karena itu gw bisa bertahan hidup dalam kesendirian tanpa adanya dukungan dari orang lain.
Masalah muncul ketika gw lagi kehilangan tujuan hidup, ambisi, serta niat hidup. Kesendirian menjadi semakin berat. Tanpa teman, hidup menjadi semakin hampa. Akhirnya hanya rasa iri yang ada di dalam diri melihat orang2 lain memiliki teman dan sahabat yang terus mendukung mereka dalam mengisi hidup ini. huhuhu😦

Di akhir kuliah gw, gw memang bimbang apa yang mau gw lakukan seusai lulus kuliah, kerja ATAU kuliah lagi?
Dan akhirnya secara terpaksa atau kebingungan, gw memilih kerja. Kenapa?
1. klo ambil S2, gw gak tahu mau ambil jurusan apa
2. gw bingung sebenarnya hidup untuk apa, dan gw pikir pada akhirnya setelah lulus S2, gw juga akan tetap berfikir seperti ini, tentang apa sebenarnya yang dicari dalam hidup? Jadi S2 sebenarnya hanya bentuk pelarian diri gw dalam menghadapi kenyataan hidup. Perlu aku akui, bahwa sekolah itu mudah (buat gw pribadi lho.. :p). Ke kampus, belajar, ngerjain PR, nyari informasi / ilmu baru, ujian, belajar, naik kelas, dan seterusnya. Gw suka hal – hal seperti itu. Namun tentu saja tidak mungkin seumur hidup kita kuliah terus. Pada akhirnya seorang manusia harus bekerja.

Seorang teman saya yg bernama michael pernah bertanya: “kenapa kamu gak lanjut s2? orang tua mampu biayain. lo suka sekolah. kurang apa lagi tuh?”. Gw cukup bingung, mau jawab apa. Betul, gw suka sekolah, tapi apakah dengan ambil S2 hidup gw bisa berubah. Dan apa yang akan dilakukan setelah S2? kerja?.
Jika jawabannya seusai sekolah akan kerja, lalu apa bedanya bekerja setelah lulus S1 dan bekerja setelah lulus S2? sama2 bekerja kan.. (tentu saja jabatan dan penghasilannya bisa berbeda, tapi gak berlaku jika lo mau buka usaha sendiri seperti buka toko di pasar).

Sampai tulisan ini dibuat, gw belum mencari pekerjaan. Gw sendiri takut untuk bekerja, seolah-olah gw belum siap dan belum cukup bekal untuk bekerja. Dalam benak gw, apa sih ilmu yang gw bisa? coding aja pas-pas-an, apalagi mau kerja jadi programer, bisa dimarahin bos tiap hari tuh.

Belum lagi hutang budi gw kepada dosen pembimbing skripsi gw, Mr.Ashari yang uda ngasi nilai bagus, bantuin ngurus surat dari perusahaan ke kampus, bimbing skripsi aku, dll, dan sampai sekarang, gw belum nyelesaikan program yang diminta dia karena alasan malas. (weks.. bisa kualat nih..)

Keseharian hidup gw saat ini mulai kacau, mulai dari bangung siang, sering bergadang ( jam 12 malam – 4 pagi waktunya untuk hidup, jam 4 – 9 pagi, waktunya tidur). sisanya untuk main, makan, nonton dan kegiatan menyenangkan lainnya.. (walau tidak bermanfaat). Kesehatan gw juga uda mulai kacau, penyakit seperti maag, pilek, batuk, flu, sudah sering menimpa diri ini. Ada yang bilang itu efek dari bergadang, walaupun gw pikir bergadang gak menimbulkan penyakit.
sekedar share, kenapa gw suka bergadang? Karena di saat itu (jam 12malam – jam 4 pagi), orang-orang pada tidur dan suasana menjadi sangat sepi. Gw suka suasana seperti ini, sangat membantu untuk bekerja dan berkonsentrasi.

Masalah dimulai ketika nyokap gw yang tiap hari nyuruh nyari kerja (walaupun gw gak siap), tetap harus nyari kerja biar gw disiplin. Pola hidup gw yang kacau seperti ini menghancurkan kedisiplinan yang uda terbentuk saat jaman sekolah dulu (seperti masuk sekolah jam 7, jadi malem2 harus tidur dan harus bangun pagi dan menjadi rutinitas harian yang disiplin). Sekarang gw hidup sesuka hati gw, (walaupun gw sendiri kecewa, kenapa gw jadi seperti ini, padahal temen2 lain uda pada kerja dan mungkin menjadi lebih dewasa, [gw jadi iri ma wawan dan irfan temen gw di kuliah yang sekarang uda dapet kerja]. ). Daripada gw gak berguna cuma main game / browsing / nulis blog gak guna seperti ini, gw disuruh ke toko setiap hari. Masuk jam 7, pulang jam 5 (dengan maksud agar gw menjadi orang yang lebih disiplin), namun kenyataannya, gw masih enggan untuk jaga toko. Kenapa?
1. Jaga toko bisa dilakukan oleh siapa saja, baik orang biasa, berpendidikan, kaya/miskin, dll , yang penting punya niat (ohh.. haruskah gw meninggalkan dunia perkomputeran dan melangkah menuju menjadi penjaga toko?? suatu dilema, yang mungkin suatu saat akan terjawab juga)
2. Menjaga toko pekerjaan yang membosankan. Kenapa bosan? Karena harus menunggu pelanggan datang.
Bagaimana jika tidak ada pelanggan yang datang, kita bisa berusaha memanggil mereka untuk datang, (semisal klo di mangga2 tuh: “boleh kak bajunya..(dengan harapan agar si kakak berjalan ke kiosnya)” . Atau bisa juga dengan melakukan iklan / promosi barang. Kalau cara-cara itu sudah dilakukan dan tetap tidak ada yang datang akibat ekonomi yang sedang lesu seperti sekarang ini, maka Anda harus duduk sabar menunggu pembeli datang. Waktu yang terbuang saat menunggu pelanggan itulah yang membuat saya enggan. Padahal klo tuh waktu diisi browsing aja, mungkin saya sudah dapat informasi yang banyak. Lalu kenapa tidak dicoba browsing di toko? Karena gak ada internet dan bekerja harus serius, tidak boleh diselingin dengan main-main (begitu kata mama).. ugh.. begitu membosankan hidup.

Lalu komentar saya untuk teman-teman yang bertanya: “koq lo belum punya pacar ?”. O ow., pertanyaan sindiran ini sudah saya cuekin sejak lama sekali. Pertama, saat SMA, nyokap gw melarang gw untuk pacaran (klo ketahuan bisa disuru langsung putusin tuh pacar). Saat kuliah, karena masuk IT binus yg jarang ceweknya, akhirnya berakhir dengan jomblo lagi. Tapi diluar itu semua, saya punya pemikiran : “kenapa harus cari pacar? gw bisa hidup tanpa pacar!”. Saat itu gw memang terkenal cuek dan penyendiri, jadi pemikiran seperti itu sah-sah aja buat gw. Tapi sekarang, disaat gak punya tujuan hidup, dan pas nonton film-film sinetron, yang pada rela berkorban demi pacarnya, duh jadi iri deh. Seolah hidup tak berarti tanpa cinta.

At the end, gw masi gak tahu, sampai kapan gw terus terpuruk seperti ini. Jadi pengangguran gak jelas, yang punya ideologi simple, tanpa dukungan dari orang tua dan teman-teman. Haruskah aku menyerah pada kenyataan hidup yang ada? Klo gw uda temukan jawabannya, akan gw post lagi di blog ini.. bye bye

Satu Balasan ke sepotong kebingungan gw setelah lulus kuliah

  1. Asca mengatakan:

    Well Boss!! baru pertama kali neh buka blog u. To the point aja ya.. menurut gw semua anak cibi2 yang belum kerja ato masih pengangguran dan foya2 menghabiskan duit ortu pasti punya pemikiran seperti yang u tulis di atas. Herannya pemikiran u sama gw mirip2.. mo kerja sekarang tapi merasa belum cukup ilmu, mo sekolah lagi tapi ortu sdh menunggu2 untuk pensiun.

    Klo menurut gw sih yang namanya sekolah ga ada salahnya walaupun nasib kita sudah hampir pasti kembali ke pasar, ga ada salahnya untuk menambah pengalaman dl.. tapi saran gw klo emang u mao lanjut, jangan ambil bidang yang jauh2 dari “pasar” n bakalan ga kepake. ambil aja manajemen, bisnis, ato finance yang kira2 bakal berguna. Ingat bos, toko2 tradisional harus ikut perkembangan jaman biar ga tenggelam oleh waktu.
    Setubuh dengan pertanyaan bro Michael, u suka sekolah, ortu mau bayarin, kurang apalagi? lebih2 lagi ortu u 22nya di toko, gw rasa mereka bisa handle untuk sementara tanpa bantuan u.
    Yang jelas setelah u sekolah, pasti pola pikir n cara pandang u bisa jadi lebih baik.

    Gw rada ga setuju klo jaga toko bisa dilakukan oleh semua orang.. jaga toko itu perlu skill juga, kalo u perhatiin lebih detail lagi… banyak banget skill yang dibutuhkan buat mengelola satu toko, walaupun toko sekecil apapun. Apalagi kalo tokonya segede toko u. Contoh paling simpel aja, dari mulai order barang, u harus tau kan posisi penjualan barang itu, lagi rame ato enggak, harus prediksi ke depannya bakalan laku gak, jangan sampe u kehabisan stok saat ada pembeli yang mo beli ataupun sebaliknya, terlalu banyak stok sehingga bikin cashflow macet. belum lagi urusan penyimpanan barang, mengawasi pembeli n pegawai, mengatur pegawai, bargain harga n diskon2 dengan supplier, sampe nyari proyek buat penghasilan tambahan.contoh2 di atas belom gw jelasin dengan lebih rinci lagi.

    Memang duit itu bukan segalanya.. tapi segalanya bakalan terasa lebih mudah jika ada duit. u itung aja deh cost buat pacaran, merit, berkeluarga, dll.. n satu hal lagi.. klo lg sakit, pasti butuh duit banyak deh.

    Menurut gw ga semua kata2 ortu harus dituruti, karena ga semua pemikiran ortu itu bener n cocok untuk keadaan sekarang. klo menurut u bener n u bisa mempertanggungjawabkan hal yang u kerjakan itu ya maju aja..

    1 hal yang paling penting, hidup harus punya ambisi, harus tahu tujuan supaya bisa memotivasi n biar hidup u ga hampa. Walaupun bisa dibilang u ga butuh2 banget duit, tapi hal lain pasti bisa jadi motivasi u, cobalah diselami lagi..

    “You do what you have to do to get what you want to get”

    Happy bday bos… hope this help ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: